Komunitas Penggemar Catur Seluruh Indonesia




Penulis Topik: Magnus Carlsen  (Dibaca 2059 kali)

lucky_s

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 9
    • Lihat Profil
    • Email
Magnus Carlsen
« pada: Pebruari 13, 2010, 07:19:46 PM »
MAGNUS CARLSEN
(born Nov-30-1990) Norway    
[what is this?]
Magnus Carlsen was born November 30, 1990. He learned chess at the age of eight and received the title of International Master in 2003. In 2004, after having gained over 300 rating points in little over a year, he became the second-youngest grandmaster in chess history, behind only Sergey Karjakin. Carlsen's hopes to become a contender for the World Championship in the future took a big step forward by placing tenth at the FIDE World Cup (2005), becoming the youngest player ever to qualify for the Candidates.

He continued to mark his improvement in 2006, tying Alexander Motylev for first place in Corus Wijk aan Zee Group B (2006) and scoring 6 points from 8 games in the 37th Chess Olympiad (2006). He also won his first Norwegian Championship in 2006, after defeating his trainer Simen Agdestein in a tie-break match. After several more strong performances in the spring and summer, including a joint second-place finish at Linares-Morelia (2007), he crossed the 2700-mark, the youngest player ever to do so. In his first Candidates match in Elista in May, he drew Levon Aronian 3-3 in the six normal-length games before losing in quick-play tie-breaks and being eliminated from the 2007 World Championship cycle. He reached the final four in the FIDE World Chess Cup (2007) before being defeated in the semifinals by the eventual winner, Gata Kamsky. Carlsen's placement in the World Cup qualified him for participation in the FIDE Grand Prix for 2008-09 (he later withdrew).

In 2008 Carlsen was the joint winner of Corus (2008) A-Group together with Levon Aronian, and placed second in Morelia-Linares (2008) behind World Champion Viswanathan Anand. Following his strong results in the first half of 2008, Carlsen improved his world ranking to 6th place on FIDE's July 2008 list behind Viswanathan Anand, Vladimir Kramnik, Veselin Topalov, Vassily Ivanchuk and Alexander Morozevich with a rating of 2775. Shortly afterward he tied for first place in the Baku Grand Prix (2008), the first round of FIDE's inaugural Grand Prix series, and then won clear first place at Aerosvit (2008) with a dominant 8/11 score. His "disappointing" third placement at 41st Biel International Chess Festival (2008) with 6/10, a half point behind joint winners Leinier Dominguez-Perez and Evgeny Alekseev , was nevertheless still a 2740 performance, whilst his equal second in the Bilbao Grand Slam Chess Final (2008) with 5.0/10 was a 2768 performance. 2009 has seen Carlsen score equal first in the Amber Tournament (Blindfold) (2009) with 7/11 alongside Kramnik and Aronian, and equal second with Veselin Topalov at M-Tel Masters (2009) behind Alexey Shirov with a 2822 performance. He also won the XXII Magistral Ciudad de Leon (2009), a rapid knockout tournament, ahead of Alexander Morozevich, Ivanchuk, and Wang Yue, and was equal second behind Kramnik at Dortmund (2009) with a 2773 performance.

The advent of Garry Kasparov in 2009 as his coach ushered in Carlsen's finest tournament performance to date, and one of the best tournament results in the history of chess. Carlsen eclipsed a powerful and star studded field consisting of Topalov, Peter Leko, Dmitry Jakovenko, Teimour Radjabov and Wang Yue to win clear first prize with 8/10 at the category XXI Pearl Spring Chess Tournament (2009). Carlsen's performance rating for the tournament was a record 3002 and lifted his FIDE rating in the November 2009 list to 2801, which makes him only the fifth player to surpass 2800, and easily the youngest. After a slow start, and sporting a throat infection for most of the tournament, Carlsen placed equal second with Vassily Ivanchuk behind Vladimir Kramnik in the Category XXI Tal Memorial (2009), which fielded ten of the world's top thirteen rated players. His 2838 performance in this tournament moved him to the top of the live ratings (http://chess.liverating.org/) to 2806, a point ahead of Veselin Topalov. Just a few days later he won the World Blitz Championship (2009) with 31/42, a full three points ahead of runner-up Anand.

Admin

  • Administrator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 597
    • Lihat Profil
Re:Magnus Carlsen
« Jawab #1 pada: Juli 13, 2010, 01:06:43 PM »
Magnus Carlsen, Raja Catur 2010

VLADIMIR Kramnik, bekas juara dunia catur dan peringkat 4 dunia, tengah bermain di ronde pertama London Chess Classic, turnamen catur paling kompetitif di ibu kota Inggris selama 25 tahun terakhir. Ia tinggi, tampan dan berwajah dingin. Dia cocok dengan permainan itu: seperti seorang pembunuh canggih. Hari itu, dia tengah menyusun sebuah serangan mematikan secara perlahan dan metodis.

Lawannya, adalah seorang anak muda yang terlihat sulit untuk diam. Magnus Carlsen seperti anak muda lainnya, selalu bergerak-gerak di kursinya. Ia kerap berdiri dan berjalan ke sisi lain ruangan. Melihat-lihat notasi dalam ukuran besar yang mengambarkan langkah kedua pecatur itu untuk penonton. Lalu kembali ke meja untuk menggerakkan buah caturnya. Ia menggerakkan buah caturnya perlahan-lahan. Dan pada langkah ke 43, sebuah serangan mendadak Carlsen membuat Kramnik kehilangan akal. Kramnik mulai kehilangan kendali posisi. Pria tampan itu menyerah. Carlsen menang…

Seorang jenius, memang bisa muncul di mana saja. Tetapi bakat asli Carlsen tumbuh secara misterius. Pada usia 19 tahun, di awal tahun 2010 ini, Magnus Carlsen, berjalan ke sebuah dekade baru. Menurut rating FIDE (Federasi Catur Internasional) dia mendapat 2810 poin dan menempatkan dia di posisi nomer satu pecatur dunia! Peringkatnya lima poin di atas Vaselin Topalov dan 20 poin di atas juara dunia catur Vishy Anand. Sebuah pencapaian mengejutkan!

Ini sebetulnya bukan hal baru. Sejak bulan November 2009, Carlsen, yang saat itu masih berusia 18 tahun, sebenarnya telah menjadi pecatur termuda di dalam sejarah yang menduduki peringkat pertama FIDE. Dia berasal dari Norwegia, sebuah “negara kecil, dengan jumlah pecatur sedikit dan hampir tak ada sejarah kesuksesan,” kata grand master Inggris, Nigel Short.

Dan, tidak seperti anak ajaib lain yang bermain catur secara penuh pada usia 12 tahun, Carlsen masih tetap duduk di bangku sekolah hingga akhir tahun lalu. Ayahnya, Henrik, seorang insinyur, berkata dia sering mengingatkan anaknya untuk lebih dulu mengerjakan PR ketimbang bermain catur. Sampai sekarang pun, Henrik sering menyela keasyikan Carlsen bermain catur dengan mengajaknya keluar rumah bersama keluarga untuk piknik ke museum. “Saya masih sering mengajaknya,” kata Henrik. “Karena bukan catur yang kami inginkan ada di pikiran Magnus.”

Bahkan, pecatur profesional terkejut dengan kemunculan Carlsen. Ia menjadi grand master pada usia 13 tahun –pecatur ketiga termuda dalam sejarah– dan menjadi pemain catur top dunia pada usia 15 tahun. Karena itu Carlsen sering disamakan dengan Mozart, jenius musik klasik yang mulai memperlihatkan kejaiban pada usia muda.

Pada bulan September 2009, ia mengumumkan sebuah kontrak pelatihan dengan Garry Kasparov, seorang pemain catur terhebat dalam sejarah, yang berhenti bermain catur pada tahun 2005 dan memilih menjadi politikus di Rusia. “Sebelum dia berhenti bermain catur,” kata Kasparov, “Carlsen akan merubah permainan klasik ini secara drastis.”

Saat diwawancara, Carlsen hanya menunjukkan sedikit bakat kejeniusannya. Ucapannya, seperti juga gaya permainan caturnya, sangat teknis, miskin gramatika dan kerap tidak logis. Dia memang menggunakan pakaian formal, memakai jas. Tapi dia nampak tersiksa. Sebagai anak muda, dia juga jarang melihat mata lawan bicaranya.

Carlsen bergabung ke elit catur dunia dalam waktu yang tak terduga. Ia adalah satu generasi pecatur yang belajar permainan ini dari komputer. Sampai hari ini, ia tidak yakin masih memiliki papan catur sungguhan di rumahnya. “Saya barangkali masih punya  papan catur. Tapi entah di mana benda itu sekarang,” katanya. Program catur hebat, yang sekarang rutin mengalahkan pemain catur manusia, telah membuat seorang grand master belajar ke tingkat yang lebih mendalam tentang sebuah posisi bidak. Nigel Short berkata banyak pemain top dunia kini menghabiskan waktunya mencoba sebuah langkah berulang-ulang dengan program komputer itu sehingga berhasil menguak misteri langkah catur. Ia menyamakan program komputer catur sebagai “peta di dalam hutan belantara Amazon.”

Namun Kasparov mengungkapkan, kejeniusan Carlsen justru berakar dari “intuisi yang tidak bisa diajarkan oleh komputer,” dan dia memiliki “sebuah insting alamiah saat meletakkan sebuah bidak catur.”

Menurut Kasparov, Carlsen memiliki insting dan energi potensial saat menggerakan buah caturnya, dan pilihan itu terkadang tak diperhitungkan oleh setiap orang –termasuk oleh komputer. Memang, dalam pertandingan Carlsen yang tengah berjalan, seorang analisis biasanya tak bisa menebak arah langkah pemuda itu seperti saat ia berlaga melawan Kramnik, sampai pertandingan itu usai dengan sempurna dengan kemenangan di tangan Carlsen. “Sangat sulit dijelaskan.” kata Carlsen. “Kadang saya menggerakkan buah catur ke arah yang saya rasa benar.”

Carlsen punya kebiasaan unik. Dia sering mengkalkulasi 20 langkah ke depan sebelum menggerakkan bidaknya. Ia juga bisa bermain catur buta dengan menyebut notasi-notasi yang dia pilih tanpa perlu melihat ke papan permainan. Banyak grand master berkata pemuda itu mengingatkan mereka pada seorang Bobby Fischer.

Pemain kenamaan Amerika itu menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan mengisolasi diri. “Amat mudah terobsesi pada catur,” kata Carlsen. “Itulah yang terjadi pada Bobby Fischer dan Paul Morphy,” seorang jenius catur yang belakangan menjadi gila. “Namun, saya tidak memiliki obsesi seperti mereka.”

Meski sekarang dia berada di peringkat puncak pecatur dunia, terima kasih untuk kemenangannya di London, Carlsen kini harus berjuang keras mengikuti kompetisi catur berkualitas untuk memuluskan langkahnya agar bisa memperebutkan gelar juara dunia catur, yang diadakan setiap dua atau tiga tahun sekali. Sebab, itu adalah puncak karir seorang pecatur terbaik di planet ini.

Walau demikian, ayahnya lebih khawatir tentang “apakah catur akan membuat anaknya bahagia.” Tapi barangkali memang itulah yang terjadi. “Saya menyukai permainan ini. Saya menyukai kompetisi,” kata Carlsen. Saat ditanya sampai kapan dia akan bermain catur, dia mengatakan, “Terlalu sulit untuk diprediksi.”

Sejauh ini, dia sepertinya sudah membuat langkah yang benar.


Komunitas Penggemar Catur Seluruh Indonesia

Re:Magnus Carlsen
« Jawab #1 pada: Juli 13, 2010, 01:06:43 PM »


 



Copyright © Komunitas Penggemar Catur Seluruh Indonesia